Suasana Mistis di Depan Kantor DPRD Bali, Rakyat Bali Turut Berduka Cita Atas Matinya Suara Perwakilan Rakyat

INDONESIASATU.CO.ID:

DENPASAR- Rakyat Bali seakan tidak mengenal kata lelah, hari Minggu kemarin (23/6) ForBALI  kembali turun kejalan dengan ribuan massa mengadakan aksi menolak reklamasi Teluk Benoa yang di kemas dalam Parade Budaya.

Ribuan massa berkumpul di Parkir Timur Lapangan Bajra Sandhi Renon, massa aksi melakukan long march di mulai sekitar pukul 15.00 Wita. Massa aksi menuju area depan Monumen Bajra Sandhi. Beberapa perwakilan wilayah melakukan orasi, diantaranya dari Karangasem, Tabanan, Desa Adat Sumerta dan Desa Adat Lebih yang di lanjutkan dengan penampilan Geekssmile, band rock yang dikenal dengan lirik lagunya yang kritis.

Long march berlanjut menuju Gedung DPRD Bali. Didepan  gerbang gedung DPRD yang tertutup rapat dan di jaga aparat keamanan, massa aksi membuat lingkaran. Kemudian sebuah keranda jenazah di turunkan dari mobil komando dan mengelilingi lingkaran sebanyak tiga kali di iringi aroma pasepan dan musik tradisional angklung. Seorang peserta dari komunitas Leak Sanur melakukan orasi yang membuat suasana mistis semakin merasuk dengan munculnya empat rangda yang kemudian mengoyak-ngoyak "Jenazah" tersebut. Itulah "Bangke Meong" bangkai yang tak berguna.

Didalam "Bangke Meong" yang terkoyak tersebut ternyata setelah dikeluarkan dari kain mori jenazah berisi sebuah spanduk bertuliskan "Turut Berduka Cita Atas Matinya Perwakilan Suara Rakyat" yang kemudian ditancapkan tepat di bawah baliho DPRD Bali yang berada disisi gerbang.

Wayan Gendo Suardana (Koordinator Umum ForBALI) dalam orasinya kemarin ForBALI berkabung atas matinya perwakilan suara rakyat yang berkantor di gedung DPRD Bali. "Anggota DPRD Bali yang tidak berani bersikap menolak reklamasi Teluk Benoa, sejatinya bukanlah orang-orang terhormat pada posisinya saat ini," tegasnya. "Para wakil rakyat yang berkantor di Gedung DPRD Bali menikmati gaji puluhan juta rupiah tiap bulannya di tambah berbagai fasilitas namun mereka tidak mewakili suara rakyat",imbuhnya. Gendo menyebut karma Teluk Benoa pasti akan berjalan, siapa yang tulus membela dan siapa yang tidak masing- masing akan menerimanya. "Namun bukan berarti kita hanya diam menunggu karma bertindak, kita harus terus bergerak berjuang," pungkasnya.

Aksi ribuan massa ForBALI kemarin berlangsung hingga pukul17.00 Wita, diakhiri dengan tabur bunga di depan spanduk yang yang di tancapkan tepat di bawah baliho DPRD Bali sebagai simbul berkabungnya rakyat Bali terhadap matinya perwakilan suara rakyat.Setelah tabur bunga ribuan massa kembali ke Parkir Timur dengan tertib dan aman sembari memungut sampah. (GUN)

 

  • Whatsapp

Index Berita