Napak Tilas Dewan Pimpinan Pusat Amukti Palapa Nusantara ke Lereng Gunung Wilis

lilikbadung, 16 Mar 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Singaraja - Rombongan DPP Amukti Palapa Nusantara (APN) beserta Keluarga Besar PKTD Tri Sakti menyusuri lereng Pegunungan Wilis pada Kamis (12/3)  di Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis yang terletak di tepatnya Dusun Curik Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Pemeluk agama Hindu di dusun ini sudah ada sejak dulu, mereka merupakan sisa-sisa dari jaman kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Prabu Airlangga. Ada 114 kepala keluarga di Dusun Curik, yang terdiri dari 500 jiwa, menjadi pemeluk agama Hindu.

Mereka hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama lain yang bertempat tinggal di dusun-dusun sekitarnya. Berdirinya Pura Kerta Bhuwana Giri tidak terlepas dari peran penting dari Ketut Sumiata Ketua Umum Amukti Palapa Nusantara (APN) yang juga merupakan Praktisi Spritual dan juga Guru Besar di Perguruan Kerohanian Tenaga Dalam (PKTD) Tri Sakti, Singara -Bali.

"Pada Tahun 1991 saya datang ke Dusun Curik ini karena tuntunan Niskala dari leluhur untuk membangkitkan ajaran kaweruh budi dan memberikan pencerahan dan pembinaan terkait pengetahuan Agama Hindu", kata Ketut Sumiarta ketika di konfirmasi Jurnalis Indonesia Satu Biro Bali.

"Saat itu dengan cara meminjam rumah salah satu penduduk yang dipakai sebagai Sanggar sangat sederhana sebagai tempat pembinaan, yang mana pada waktu itu masyarakat masih belum mempunyai tempat ibadah dan belum mendapat sentuhan dari PHDI Provinsi Jawa Timur, serta pihak-pihak terkait ", ujar Ketut Sumiarta. 

"Saya juga sebagai Inisiator dan pengerak awal dalam pendirian Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis dengan mendirikan Turus Lumbung Pura, serta menanam pohon beringin atau pohon wandira sebagai Cikal Bakal Pura yang sekarang berdiri megah di Desa tersebut, tentunya Pura ini dibangun tidak terlepas dari para Banyak donatur baik secara pribadi maupun lembaga tentunya",tegasnya.

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis merupakan Pura Penyawangan dari Candi Sapto Argo yang berada di puncak Gunung Wilis yang merupakan pemujaan Dewa Wisnu, Dewi Sri dan leluhurnya.

Umat Hindu di Desa Bajulan setahun sekali naik ke puncak Gunung Wilis untuk melakukan bersih-bersih dan merawat Candi Sapto Argo sekaligus bersembahyang. Disekitar Candi Sapto Argo terdapat situs-situs, sedangkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri yang ada di Candi Sapto Argo telah hilang dicuri.

Sesepuh-sesepuh umat Hindu yang ada di Desa Bajulan meyakini bahwa di sekitar Candi Sapto Argo terdapat lima prasasti dan yang telah ditemukan hanya tiga prasasti.

Ketiga prasasti tersebut dipahat pada batu-batu yang besar yang hingga kini belum ada penelitian yang dilakukan di Gunung Wilis. Sementara itu, umat Hindu di Desa Bajulan juga tidak bisa membaca isi dari prasasti tersebut karena ketiga prasasti tersebut ditulis dengan simbol-simbol seperti lingkaran, tanda silang, jalan, air terjun dan lain-lain.

Posisi ketiga prasasti itu berada pada tiga titik yang membentuk-bentuk segi tiga, yang berada pada lereng sebelah timur, pada lereng bagian tengah dan pada lereng sebelah barat dari Candi Sapto Argo.

Di lereng-lereng Gunung Wilis terdapat tempat-tempat pertapaan, terutama di lereng Gunung Wilis bagian tengah terdapat gua besar sebagai tempat bersamadhi namanya Guo Kluno.

"Suatu ketika saya mendapat wangsit untuk mencari keberadaan Prasasti itu, dalam perjalanan yang begitu melelahkan itu saya mendapat Isyarat akan menemukan Panca Wala Sandi Krama, (yang selanjutnya dapat diartikan lima kalimat rahasia yang menyatu)", ujar Jro Mangku Damri di Pura Kerta Bhuana Giri Wilis  ketika diwawancara Jurnalis Indonesia Satu Biro Bali.

Jro Mangku Damri melakukan Prosesi Matur Piuning di Pertapaan Goa Kluno tersebut, sampai akhirnya tiba tiba secara tiba tiba semua rombongan yang terdiri dari 6 Orang dari beda keyakinan terasa tertarik kesedot seperti kesetrum dan ternyata pusatnya pada sebuah batu setinggi 6 meter,.

Setelah di dekati ternyata pada batu tersebut terdapat cekungan cekungan yang menyerupai tulisan yang mirip huruf palawa dan diyakini kalau itu tulisan Brahmin, dan Batu yang diangap Prasasti lagi satunya yang ukurannya lebih kecil bertuliskan huruf Jawa.kuno.

"Dari napak tilas yang kami lakukan dan berbagai temuan ini bisa diyakini kalau Hyang Leluhur ingin memberitahukan sesuatu rahasia yang ingin disampaikan untuk anak cucunya agar dapat dijadikan bukti sejarah yang mungkin terpendam atau sengaja di belokkan", pungkas Ketut Sumiarta. (GUN)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu